,
Kamis, 02 Agustus 2018
Bekasi - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang akan dilaksanakan secara serentak, pada 26 Agustus 2018, se-Kabupaten Bekasi.  Membuat warga...
Bekasi - Masyarakat desa Sukaraya, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, masih menginginkan kepemimpinan Heryadi calon nomor urut 3 pada...
Jakarta - Pada khakekatnnya puasa bukanlah sekedar menahan nafsu makan dan minum, tetapi menahan segala nafsu manusia. Misalnya nafsu amarah, serta...
JAKARTA - Air susu dibalas dengan air tubah, Kebaikan dibalas dengan tindakan kejahatan, pepatah inilah yang dirasakan oleh salah seorang mantan...
Jakarta - Tawuran antar warga kembali terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat. Nampak batu, dan pecahan botol berserakan di jalan seusai terjadinya...
 Jakarta -  Ajang pemilihan Putera-Puteri Maritim Indonesia (PPMI) tahun 2018 kembali digelar. Ajang ini merupakan ajang ketiga kalinya...
30 Januari 2018 | Dibaca: 207 Kali
Ini Indonesia, Bukan Malaysia

Oleh : RAHMAT SATRIA
PEMIMPIN REDAKSI FOKUSJURNAL
 

Di Kualalumpur, Ibukota Negara Malaysia. Jika kita nginap di hotel membawa wanita yang bukan muhrim. Diharuskan menunjukan  buku nikah kepada petugas reptionis hotel . Selanjutnya petugas hotel memberi kita kunci kamar yang dimaksud dan dengan ramah petugas mengantar kita ke kamar  yang kita inginkan.

Peraturan itu berlaku  di salah satu hotel di kawasan Chowkit, Kualalumpur. “ Ini peraturan Pak, jika saya melanggar, pemilik hotel yang tanggung akibatnya,” kata petugas reptionis hotel kepada penulis, yang saat itu hendak bertemu dengan  salah satu tokoh GAM ( Gerakan Aceh Merdeka), saat mereka masih berjaya di  Era Soeharto.

Itu Kualalumpur, lain halnya dengan Kinabalu, salah satu Ibu Kota Negara Bagian Malaysia. Khususnya di  daerah Tawau, jika kita nginap di salah satu hotel. Menjelang malam dan pada jam tertentu, kita akan mendapat telepon dari seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai ‘ Bapak Ayam’.” Jangan takutlah Pak Ci. Pengertian “Bapak Ayam “ disini adalah, mereka yang  mengatur dan memberi pengamanan terhadap wanita yang menemani tamu lelaki. Kalau di Indonesia disebut Germo. Jika kita hendak, “ memakai “ wanita ini sampai pagi, maka si wanita  akan menghubungi Bapak Ayam terebut.

“ Mau bangsa Thai (maksudnya Thailand) atau Indon (Indonesia) kami sediakan. Soal tarif, Pak Ci sendirilah yang bicara sama perempuan  itu. Kalau yang Indon asli dari Jawa. Kalau Pak Ci berkenan saya bawa naik ke kamar lah, “ ini dialog singkat antara penulis, yang memang hendak mengupas perdagangan wanita Indonesia – Malaysia , dengan Bapak Ayam yang mengaku bernama Syarifudin, asal Makasar itu.

Di Tawau, Malaysia. Hampir semua hotel menyediakan wanita panggilan. Pada Saat  tertentu, ada Polis Diraja Malaysia yang datang ke hotel tersebut. Tidak jelas apa yang dilakukan polis itu tak berapa lama kemudian ia keluar dan menghampiri temannya yang menunggu di salah satu pojok pertokoan. Begitu seterusnya.  Hanya Tuhan yang tahu apa yang mereka perbuat di hotel itu.

Mungkinkah Jakarta mau diterapkan Gubernur Anies Baswedan  seperti di Kualalumpur.  Tanda ke arah sana sudah mulai terlihat ketika Anies mencabut izin tempat hiburan griya pijat Hotel Alexis. Saat  itu Gubernur Anies berkoar  bahwa Jakarta harus bersih dari maksiat. Gubernur Anies memang benar, siapa yang tak kenal Hotel Alexis.

 Gubernur Ahok sebelum masuk penjara berkali – kali mengatakan  bahwa hotel milik Alex yang mencalonkan  diri jadi pengurus PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) ini sarang maksiat, terutama di lantai 7 hotel tersebut. Bahkan Ahok mengatakan bahwa surga itu tidak teretak di telak kaki Ibu,  tapi di lantai 7 Hotel Alexis. Nah Lo. Kalau sudah Ahok ngomong seperti ini, berarti benar  adanya.

Sedangkan  Anies Baswedan membuat kebjikan seperti itu tentu ada dasar hukumnya. Seperti mencabut larangan sepeda motor yang melintas di Jalan  Jenderal Sudirman dan membolehkan becak beroperasi di jalan protokol. Tentu kebijakan ini tentu sudah dipikir matang – matang oleh Gubernur  Anies Baswedan dan Wakilnya Gubernur Sandiaga Uno, yang berjanji akan menuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya sebagai saksi terkait kasus tanah .

Kebijakan lainya yang diambil Anies adalah becak boleh beroperasi lagi di Jakarta, kendati Anies bersikeras akan ada jalur khusus untuk becak, kesemrawutan akan kemacetan pasti terjadi. Lagi-lagi  polisi yang mengatur arus kendaraan tersebut, dalam hal ini anggota Polantas, sebagai ‘Tong Sampah’. Tong Sampah di tulisan ini bukan Tong Sampah yang ada di depan rumah Anda. “ Tapi polisi yang  mengamankan semua peraturan yang dibuat instusi lain, “ kata mantan Kapolri Jenderal Kunarto, yang juga mantan ajudan era Presiden Soeharto, ketika melihat polisi mengatur arus lalu lintasn berdiri di pinggir jalan raya.

Peraturan yang dibuat Gubernur Anies bahwa becak boleh beroperasi tentu saja membuat abang becak bersorak kegirangan, terutama abang becak yang mencari napkah di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Bahkan juragan becak tidak segan-segan mendatangkan becak dari Indramayu.  Namun Gubernur Anies tida’ kalah sigap dengan pengusaha becak, ia akan menghadang becak  truk  dari Jndramayu yang mengangkut becak  ke Jakarta,”  Kalau perlu kita jaga 24 jam, “ kata Gubernur Anies Baswedan.

Jargon Gubernur Anies membela kepentingan rakyat kecil sudah mulai kelihatan dari sepak terjangnya bersama Wakila Guebernur Sandiaga Uno. Pertama dihapuskannya peraturan tidak dibolehkannya pengendara motor lewat  di Jalan Sudirman dan MH Thamrin. Tak lama kemudian. Gubernur Anies mencabut larangan becak  tidak boleh beroperasi di jalan. Artinya, gubernur membolehkan motor lewat di Jslan Sudiraman dan MH Thamrin dan becak boleh beroperasi di jalan raya yang tentu saja sudah ada kesepakatan antara Pemda DKI dan tukang becak.  “Sudah lama tidak boleh. Sekarang dibolehkan ,“kata seorang Abang becak di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Gubernur Anies tidak mau tahu, atau sengaja tidak tahu , peraturan yang sudah dibuat mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, terutama tentang becak.  Saat itu, Pers dan warga mendukung langkah Sutiyoso yang melarang becak cari penumpang di Jakarta . Alasan Sutiyoso melarang becak beroperasi di Jakarta dapat diterima dengan akal sehat. Pertama menambah kesemrawutan arus lalulintas dan tidak manusiawi karena becak dikayuh oleh tenaga manusia dan penumpangnya juga manusia.

Selain itu mantan Gubernur Sutiyoso juga memberangus Kramat Tunggak, yang  kini menjadi Islamic Center. Gubernur Anies tidak mau kalah. Ia melakukan razia di Diskotek yang ditanggarai jadi tempat peredaran Narkoba. Bahkan hotel dan tempat kos, tak luput dari razia anggota Satpol PP dan aparat kelurahan. Hasilnya, puluhan wanita dijaring, mereka yang dikategorikan sebagai pelacur dibawa ke Panti Sosial Kedoya untuk dibina, sisanya harus membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Dalam  catatan Wakil  Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno , ada 33 diskotek yang ditangarai tempat traknsaksi narkoba. Sudah bukan rahasia lagi Dsikotek Pujasera milik Awi, yang  setiap hari dikelolah oleh keluarganya, Enlin, jadi tempat transaksi narkoba. Di diskotek ini  ada bandar narkoba berinitial N. Bandar N ini dalam waktu singkat bisa menyediakan ekstasi kelas satu yang dibutuhkan pengunjung DisIkotek Pujasera. Kendati demikian, tempat hiburan adalah penyumbang pajak terbesar  Pemda DKI, menyusul kendaraan bermotor.

 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123