,
Depok - Wilayah Pondok Cina, Kecamatan Be ji, Depok, kini kian maju pesat dan tertata rapi. Nampak, terlihat beberapa gedung pencakar langit...
Jakarta - Organisasi Masyarakat (Ormas) Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI), kian eksis di tengah masyarakat. Salah satunya di wilayah...
Tambun - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI), Tambun Selatan (Tamsel) Rundi Hikmah Prayogi meminta kepada...
Jumat, 07 September 2018
Jakarta - Peran pemuda dalam kancah politik harus menjadi prioritas dalam kepedulian terhadap bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang...
JAKARTA - Air susu dibalas dengan air tubah, Kebaikan dibalas dengan tindakan kejahatan, pepatah inilah yang dirasakan oleh salah seorang mantan...
Jakarta - Tawuran antar warga kembali terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat. Nampak batu, dan pecahan botol berserakan di jalan seusai terjadinya...
07 Februari 2018 | Dibaca: 198 Kali
Media Mainstream di Tengah Tantangan Zaman

Oleh : Nico Karundeng
Wartawan Senior
 
TANTANGAN  dan Kreatifitas Wartawan Zaman Now dan Old. "Dilaporkan ada Jaya 65 di wilayah Tambora, taruna sudah di-87-kan ke patroli rusa, " Demikian suara yang terdengar dari handy talky [HT] yang dipegang seorang wartawan sebuah media surat kabar ibukota di tahun 80-an.                                
 
Mendapat kabar tersebut, sang reporter langsung bergegas memacu sepeda motornya ke lokasi. Ini sekelumit cerita wartawan zaman old yang masih minim informasi. Tapi informasi dari HT waktu itu sangat berharga, karena ini satu-satunya informasi yang akurat bagi para reporter.
 
Bahkan tidak semua reporter punya fasilitas HT, karena harganya masih lebih mahal dari HP android saat ini. Bagi reporter yang punya HT yang bisa memonitor pergerakan patroli polisi atau satpol PP milik Pemda DKI, juga sering mendapat kendala, karena dia tidak bisa dapat memonitor informasi sepanjang 24 jam.
 
Tentu manusia perlu istirahat, jadi reporter ini juga sering kecolongan berita besar yang terjadi misalnya kecelakaan lalulintas yang menelan banyak korban, pembunuhan, perkosaan bahkan penodongan dan perampokan.
 
Bagi reporter zaman 80-an bahkan 90-an sumber informasi yaitu mendatangi pihak-pihak yang berkompeten dengan peristiwa itu. Misalnya di kantor Pemda atau polisi setempat seperti Polda, Polres dan Polsek.
 
Untuk mendapatkan informasi di instansi-instansi tersebut, zaman itu bukan seperti membalik telapak tangan. Karena umumnya saat itu, instansi pemerintah termasuk polisi masih sangat tertutup. Pers masih dianggap momok yang bisa membeberkan berita-berita negatif, sehingga tidak mendapatkan informasi yang akurat.
 
Apalagi penguasa orde baru saat itu masih sangat otoriter, sehingga berita-berita yang bernuansa SARA (suku agama dan antargolongan) tidak boleh diberitakan secara lengkap. Jika melanggar ketentuan ini wartawan atau penerbitan pers itu sendiri bisa berurusan dengan pihak TNI, dalam hal ini Kopkamtibda Jaya, dengan pelaksana Laksusda Jaya.
 
Seorang pimpinan menengah satu surat kabar dan reporternya sempat diperiksa selama nyaris 24 jam di Laksusda Jaya di daerah Kramat Jakarta Pusat, karena menyebut 2 kelompok etnis tertentu yang bertikai di suatu tempat di Jakarta.
 
Bahkan, saya sendiri pernah dipanggil seorang Pasi Intel Kodim, karena memberitakan penganiayaan seorang pembantu oleh majikan dari etnis tertentu. Perwira berpangkat kapten tersebut sempat mengancam, jika sampai rumah majikan korban sampai diserbu massa, saya harus mempertanggungjawabkan pemberitaan itu.
 
Beruntung setelah beberapa hari tidak terjadi peristiwa anarkis yang ditakutkan aparat TNI tersebut, sehingga selamatlah saya dari interogasi.          
Rupanya usut punya usut yang menyelamatkan saya, karena memang tidak mencantumkan alamat jelas rumah majikan korban di suatu kompleks perumahan mewah di Jakarta.                  
 
Walaupun tidak ada ketentuan untuk tidak mencantumkan alamat yang jelas bagi pelaku kejahatan dalam UU Pokok Pers dan Kode Etik Jurnalistik PWI, tapi setiap media waktu itu, sudah punya standar etika masing-masing untuk menjaga agar efek dari pemberitaan tidak mengakibatkan sesuatu yang negatif.
 
Memang, reporter atau wartawan zaman dulu lebih berhati-hati dalam memberitakan sesuatu, karena jika sampai menabrak rambu-rambu yang sudah digariskan pemerintah orde baru, bukan hanya wartawannya yang akan jadi korban dengan pemecatan dari medianya. Tapi medianya pun dapat dicabut Surat Ijin Terbitnya alias dibreidel tidak boleh terbit lagi.
 
Salah satu contoh, Surat Kabar Sinar Harapan yang dibreidel tahun 1986 karena lebih dulu memberitakan paket kebijakan ekonomi pemerintah yang baru akan diputuskan dalam rapat kabinet.
 
Surat kabar Sinar Harapan yang sempat ditutup selama hampir setahun akhirnya baru bisa terbit dengan syarat harus berganti nama menjadi Suara Pembaruan hingga saat ini.
 
Tantangan reporter zaman dulu memang lebih sulit dibandingkan para reporter zaman now, karena sulitnya memperoleh informasi dari sumber-sumber resmi, terpaksa mereka harus kreatif misalnya mencari teman dengan anggota polisi atau aparat pemda pengelola informasi. Ini diperlukan kepiawaian khusus, karena untuk menembus sekat-sekat birokrasi seperti ini tidaklah muda.
 
Bahkan beberapa media tertentu terpaksa menyiapkan pos anggaran untuk menembus sekat-sekat itu. Hal ini memang bukan tanpa risiko, karena jika sampai pimpinan instansi terkait mengetahui tidak sedikit aparat yang menjalin komunikasi dengan media mendapat sanksi mutasi.
 
Reporter media-media mainstream saat itu memang masih cukup langka jika dibandingkan sekarang dimana satu pos liputan bejibun dengan ratusan reporter media teve, radio,surat kabar dan online.
 
Tapi walau jumlah wartawan masih langka persaingan untuk mendapatkan berita ekslusif masih terjadi. Kompetisi yang sehat ini menjadikan wartawan zaman dulu sepertinya lebih kreatif, karena harus mencari sumber berita dari berbagai tempat, seperti di tempat kejadian perkara (tkp) atau jika peristiwanya sudah terjadi beberapa jam kemudian, mencari sumber informasi dari keluarga atau kerabat korban atau yang menjadi obyek dan subyek berita.                          
 
Diakui, semua wartawan atau reporter surat kabar, teve, radio, majalah dan online saat ini pastilah bergelar sarjana strata 1. Sementara, wartawan zaman dulu tidaklah demikian. Banyak yang hanya berpendidikan SMA atau sederajat, tapi motivasi untuk bekerja sangat tinggi.  
 
Membandingkan dengan para reporter zaman sekarang tentu dari sisi pendidikan, wartawan zaman dulu pastilah kalah. Tapi dari sisi motivasi untuk mencari sumber atau nara sumber berita mereka sering kedodoran dengan wartawan zaman dulu.  Motivasi dan militansi wartawan zaman dulu tercipta karena kondisi di lapangan yang harus mereka lakukan.                    
 
Sementara wartawan zaman sekarang sikap seperti di atas tidak tercipta. Wartawan zaman sekarang walaupun semua berpendidikan cukup tinggi, tapi mereka sudah merasa terbuai karena sangat mudah mendapatkan informasi tentang suatu peristiwa kriminal atau musibah, karena jaringan medsos yang beraneka ragam.
 
Tantangan yang dihadapi wartawan saat ini hanyalah mereka harus lebih hati-hati dalam menulis berita karena pedoman atau rambu-rambu yang harus dihadapi bukan lagi hanya UU Pokok Pers dan Kode Etik Jurnalistik, tapi kini ditambah UU ITE, sehingga salah sedikit bisa berurusan dengan pihak berwajib.
 
Selain itu karena mendapatkan informasi yang sedemikian muda, sehingga sepertinya wartawan sekarang tidak lagi berlomba untuk menciptakan berita ekslusif.          
 
Mereka dengan mudah mengakses nara sumber yang telah memposting setiap berita di media sosial instansi-instansi pemerintah termasuk TNI dan Polri yang saat dulu sangat sulit ditembus wartawan dulu.
 
Karena sudah tidak ada persaingan, maka berita-berita yang muncul bukan lagi beragam karena didapat wartawan dari TKP, tapi seragam karena didapat dari sumber informasi yang sama. Perkembangan pemberitaan pers yang akselerasinya sangat cepat dengan munculnya ratusan media online kini menjadi tantangan bagi media-media mainstream yang masih tetap eksis.
 
Bukan tidak mungkin, jika media mainstream tidak cepat melakukan reorganisasi manajemen, pastilah satu persatu akan tumbang dan tinggal menjadi kenangan.
 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123