,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
20 Juni 2019 | Dibaca: 241 Kali
Dua Padepokan Berklaborasi, Produksi Film dan Buku Spiritual

Jakarta | Upaya penelusuran sejarah, “Tak ada hal kejadian apapun di kehidupan ini yang keberlangsungannya bersifat hanya kebetulan. Hal itu diungkapkan oleh  KH. Abah Anom usai melakukan kunjungannya ke Drs. RH Ryan Sukandar. SH, MH, MM, MM Psi, Pendiri Padepokan Welas Asih, dibilangan, Parung, Bogor, Jawa Barat.
 
Ajang silaturahim itu bukanlah anjangsana biasa bersama Drs. RH Ryan Sukandar selaku Ketua Umum Padepokan Welas Asih dihadapannya KH. Abah Anom merasa prihatin atas “Legenda” Anom yang dituangkan dalam pembuatan film.
 
“Film-film yang akan kami buat, tidak hanya sebagai hiburan atau tontonan saja, tapi berisi tuntunan yang akan berfungsi sebagai penguat mentalitas kebangsaan dan tauhid,"kata KH. Abah Anom.
 
Abah sapaan akrab pria yang belum lama ini genap berusia 48 tahun ini, mengungkapkan sudah saatnya dilakukan langkah-langkah tegas dan kreatif agar tak ada lagi sejumlah pembiaran oleh berbagai pihak terhadap adanya pembelokkan terhadap realitas sejarah, filosofis, dan spiritual. Harus secepatnya diluruskan melalui media film.
 
" Kajian tajam terhadap beberapa judul buku dan film yang mengangkat soal Syeikh Siti Jenar yang muncul dan sangat mempengaruhi pikiran masyarakat selama ini, sungguh menjadi topik pembahasan seru,"ungkapnya.
 
Film yang berjudul  “Gusti Kanjeng Syekh Siti Jenar” itu menceritakan tentang Wafatnya Syeikh Siti Jenar, Gugurnya Ki Ageng Mangir Wana Baya, Takluknya Baru Klinting, Mengitari Gunung Merbabu, Penemuan Harta Karun Putri Campa. 
 
“Meluruskan pemahaman keliru masyarakat menuju pada sebuah pandangan sesungguhnya, real dan logis, bahwa esensi keberadaan Syeikh Siti Jenar itu sendiri adalah bukanlah sosok jasadiyah, jism, badaniyah, tubuh ragawi, materi, atau pun kebendaan.”, jelas KH Abah Anom. 
 
Jadi lanjut Abah ada sesuatu yang immateri, yang tak kasat mata, tak tampak, tak terdeteksi mata fisik. Merupakan hasil akhir dari proses aksi reaksi dan persenyawaan spiritualnya sang Sunan dengan Sang Khalik, sebagai “jumbuh”nya sesuatu yang berasal dari nafsu muthmainah-nya Sunan Kali Jaga yang disebut Syeikh Siti Jenar.
 
" Cerminan Proyeksi komposisi rasa yang muncul dari hasil proses telah ber - manunggal”nya antara Raga, Nafsu Muthmainah, Nur Muhammad-Nya Sang Sunan dengan “Nur Illahi” Inilah hakekat “Manunggaling Kawulo dengan Gusti” sesungguhnya dalam kacamata Ma’rifatullah yang berbeda dengan pemahaman masyarakat tentang sosok Syeikh Siti Jenar," paparnya, pada Kamis (20/6/2019).
 
Sementara itu, Kiai RH Ryan Sukandar mengatakan bahwa tak ada lagi istilah, sebutan, label, gelar, tataran, atau kata apapun yang mau disematkan untuknya, kecuali rasa cintanya yang besar pada per”senggama”an dan penghambaannya pada Allah Subhanahuwattallah.
 
Di mana manusia yang telah mencapai kondisi “Jatining Puncak Jati Ma’rifatullah” tersebut adalah manusia yang telah mampu menjaga arah arus kehendaknya ke dalam kehendak-Nya disebut Syeikh Siti Jenar (Tanah Kuning), seperti yang terjadi pada diri Sunan Kali Jaga, yang tak lain adalah Umar Ibnu Khatab.
 
“Film adalah media yang sangat efektif untuk mempengaruhi bawah sadar manusia”, tegas Kiai RH Ryan Sukandar. 
 
Dibawah naungan PT. FANS akan membuka Open Casting yang akan dibuka mulai tanggal 1 s/d 25 Juli 2019, dengan usia pemain 10 – 80 tahun. 
 
Di mana bagi seluruh calon pemain yang telah lolos casting akan dikarantina selama satu bulan di Padepokan Welas Asih tanggal 1 s/d 30 Agustus 2019, Jalan H. Mawi No. 99 RT.01/RW.01 Desa Waru Induk, Parung, Bogor 16330 – Jawa Barat.
 
Berikut beberapa judul Film yang akan dipersembahkan seperti : 
 
1. Mendung Di Pajajaran,
2. Ustadzah Di Kampung Maling, 3. Ronggeng Gunung
4. Raden Arya Wira Lodra
5. Cimande
6. Sabda Raja Bingung
7. Proklamasi

(yn)

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT