,
07 Januari 2018 | dibaca: 68 Kali
Di Iming-Iming Ajian Semar Mesem 25 Anak Menjadi Korban Babeh
noeh21
(foto/ist)
Tangerang, Fokusjurnal.com - Jajaran Polresta Tangerang membongkar kasus phedofilia dengan korban sebanyak 25 anak. Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Sabilul Alif mengaku beberapa hari lalu dirinya mendapatkan SMS dari masyarakat yang melaporkan kasus kekerasan seksual kepada anak atau pedofilia.

"Berawal dari SMS itu, saya memerintahkan Kasat Reskrim Kompol Wiwin Setiawan untuk melakukan penyelidikan dan menindaklanjuti informasi itu," ujar Sabilul, Kamis (4/1/2018).

WS alias Babeh yang sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer di salah satu SD di kawasan Rajeg, Kabupaten Tangerang itu tega memangsa  25 anak di Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang.  Pelaku diringkus di kediamannya, Kampung Sakem, Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang.

Tersangka  mengakui perbuatannya karena ditinggal istrinya yang sudah 3 bulan menjadi TKW di Malaysia.

"Kepada saya, tersangka mengakui dan menceritakan perbuatan yang dilakukannya," kata Kombes Pol Sabilul Alif.

Dikatakan Sabilul, Kejadian itu telah dilakukan oleh tersangka sejak bulan April 2017. Menurut tersangka, anak-anak sering mendatangi dirinya di gubuk yang didirikan tersangka.

“Kedatangan anak-anak karena menganggap pelaku memiliki ajian semar mesem dan bisa mengobati orang sakit. Anak-anak itu kemudian meminta ajian semar mesem kepada tersangka” ujar Sabilul. Atas permintaan itu, lanjut Kapolres pelaku bersedia memberikan ajian semar mesem asalkan ada mahar atau semacam kompensasi uang. "Namun, untuk mahar uang, anak-anak mengaku tidak memilikinya. Tersangka kemudian mengatakan, mahar uang bisa diganti asalkan anak-anak bersedia disodomi. Berdasarkan pengakuan tersangka, anak-anak bersedia disodomi olehnya," kata dia.

Dari peristiwa itu, diamankan barang bukti berupa 1 kaos lengan pendek merek little boy, 1 celana pendek warna biru ungu, pelor gotri, dan telepon genggam.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dalam paling lama 15 tahun.

"Untuk selanjutnya, langkah yang diambil adalah melakukan pemeriksaan terhadap korban didampingi orangtua, saksi, dan tersangka. Kemudian melengkapi administrasi penyidikan dan gelar perkara. Kepada para korban diberikan trauma healing dan pendampingan dari P2TP2A dan Kemen PPPA," tuturnya.

Hingga saat ini, proses sudah pada tinggkat penyidikan pemeriksaan saksi-saksi dan para korban serta dalam proses pemberkasan.
Terkait kasus ini, akan dilaksanakan ekspos yang akan dipimpin langsung Kaplolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo di di Mapolresta Tangerang.

Dalam ekspos itu, rencananya akan turut dihadiri KPAI, P2TP2A,dan Kementerian PPPA.

"Kami mengajak untuk bersama-sama memerangi segala bentuk kejahatan terhadap anak," pungkasnya. (**)
 
 
Berita Terkait
Berita Lainnya