,
Oleh : Nico Karundeng Wartawan Senior   TANTANGAN  dan Kreatifitas Wartawan Zaman Now dan Old. "Dilaporkan ada Jaya 65 di wilayah...
Senin, 05 Februari 2018
Oleh :  Yudi Latif  Makrifat Pagi Saudaraku, saya dilahirkan di sebuah dusun terkucil, ujung selatan Sukabumi, Jawa Barat, yang tak...
Depok, Fokusjurnal.com – Sosialisasi pelarangan terhadap pengendara roda dua dan empat untuk tidak memasuki jalur cepat, namun masih tetap ada...
Jakarta, Fokusjurnal.com – Memasuki tahun politik 2019, sederet nama sudah dimunculkan sebagai jagoannya dalam pencalonan Presiden dan Wakil...
Jakarta, Fokusjurnal.com – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan [Menko Polhukam] Wiranto menerima audiensi Dewan Pimpinan...
Jakarta, Fokusjurnal.com - Mencuatnya Pj [Pejabat] Gubernur Sumatera Utara dan Jawa Barat,  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan...
27 Januari 2018 | Dibaca: 187 Kali
Advokat : Antara Profesi dan Penegak Hukum

DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand] [foto/ist]

Oleh: DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand]
AYM Legal Consultans
 
"ah, bayar pengacara (baca= advokat) itu mahal" , demikianlah kalimat yang sering terdengar diantara hiruk pikuk masyarakat yg tengah mengalami persoalan hukum. Bahkan, tidak jarang citra negatif terhadap advokat. Hal hal tersebut tidaklah tanpa alasan.
 
Ketika saya ingin merumuskan pengertian advokat, ada rasa dilematis yg bergejolak. Dilematis antara idealisme dan realisme yg berpelukan mesra ditemani oleh waktu. Bagi kaum idealisme, advokat adalah penegak hukum, dengan semangat fiat yustitia ruat caelum, berpegang pada semangat keadilan, bernilai kan kemanusiaan.
 
Bagi kaum realisme, advokat adalah profesi, pilihan real utk mengeruk pundi pundi rupiah dan asset, hingga bias makna kepada menghalalkan segala cara demi kemenangan semu.
 
Idealisme dan realisme advokat bergelut dengan waktu, bernafaskan logika dan rasionalisme. Walau, bagi kaum idealisme advokat, tidak sedikit yg berkelimpahan pundi pundi rupiah sebagai hasil/akibat. Namun bagi kaum realisme advokat, pundi pundi rupiah adalah tujuan akhir profesi advokat.
 
Ironis, bagi kaum realisme advokat, tidak sedikit yang mengejar pundi pundi rupiah malah hidup dengan keprihatinan yg akut.
 
Akhirnya, sependapat dengan Imanuel Kant, hati nurani (=moral) yg akan menjadi panglima terakhir bagi para advokat bergumul antara profesi dan penegak hukum.  
 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123