,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
27 Januari 2018 | Dibaca: 413 Kali
Advokat : Antara Profesi dan Penegak Hukum

DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand] [foto/ist]

Oleh: DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand]
AYM Legal Consultans
 
"ah, bayar pengacara (baca= advokat) itu mahal" , demikianlah kalimat yang sering terdengar diantara hiruk pikuk masyarakat yg tengah mengalami persoalan hukum. Bahkan, tidak jarang citra negatif terhadap advokat. Hal hal tersebut tidaklah tanpa alasan.
 
Ketika saya ingin merumuskan pengertian advokat, ada rasa dilematis yg bergejolak. Dilematis antara idealisme dan realisme yg berpelukan mesra ditemani oleh waktu. Bagi kaum idealisme, advokat adalah penegak hukum, dengan semangat fiat yustitia ruat caelum, berpegang pada semangat keadilan, bernilai kan kemanusiaan.
 
Bagi kaum realisme, advokat adalah profesi, pilihan real utk mengeruk pundi pundi rupiah dan asset, hingga bias makna kepada menghalalkan segala cara demi kemenangan semu.
 
Idealisme dan realisme advokat bergelut dengan waktu, bernafaskan logika dan rasionalisme. Walau, bagi kaum idealisme advokat, tidak sedikit yg berkelimpahan pundi pundi rupiah sebagai hasil/akibat. Namun bagi kaum realisme advokat, pundi pundi rupiah adalah tujuan akhir profesi advokat.
 
Ironis, bagi kaum realisme advokat, tidak sedikit yang mengejar pundi pundi rupiah malah hidup dengan keprihatinan yg akut.
 
Akhirnya, sependapat dengan Imanuel Kant, hati nurani (=moral) yg akan menjadi panglima terakhir bagi para advokat bergumul antara profesi dan penegak hukum.  
 

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT