,
Kamis, 02 Agustus 2018
Bekasi - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang akan dilaksanakan secara serentak, pada 26 Agustus 2018, se-Kabupaten Bekasi.  Membuat warga...
Bekasi - Masyarakat desa Sukaraya, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, masih menginginkan kepemimpinan Heryadi calon nomor urut 3 pada...
Jakarta - Pada khakekatnnya puasa bukanlah sekedar menahan nafsu makan dan minum, tetapi menahan segala nafsu manusia. Misalnya nafsu amarah, serta...
JAKARTA - Air susu dibalas dengan air tubah, Kebaikan dibalas dengan tindakan kejahatan, pepatah inilah yang dirasakan oleh salah seorang mantan...
Jakarta - Tawuran antar warga kembali terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat. Nampak batu, dan pecahan botol berserakan di jalan seusai terjadinya...
 Jakarta -  Ajang pemilihan Putera-Puteri Maritim Indonesia (PPMI) tahun 2018 kembali digelar. Ajang ini merupakan ajang ketiga kalinya...
27 Januari 2018 | Dibaca: 269 Kali
Advokat : Antara Profesi dan Penegak Hukum

DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand] [foto/ist]

Oleh: DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand]
AYM Legal Consultans
 
"ah, bayar pengacara (baca= advokat) itu mahal" , demikianlah kalimat yang sering terdengar diantara hiruk pikuk masyarakat yg tengah mengalami persoalan hukum. Bahkan, tidak jarang citra negatif terhadap advokat. Hal hal tersebut tidaklah tanpa alasan.
 
Ketika saya ingin merumuskan pengertian advokat, ada rasa dilematis yg bergejolak. Dilematis antara idealisme dan realisme yg berpelukan mesra ditemani oleh waktu. Bagi kaum idealisme, advokat adalah penegak hukum, dengan semangat fiat yustitia ruat caelum, berpegang pada semangat keadilan, bernilai kan kemanusiaan.
 
Bagi kaum realisme, advokat adalah profesi, pilihan real utk mengeruk pundi pundi rupiah dan asset, hingga bias makna kepada menghalalkan segala cara demi kemenangan semu.
 
Idealisme dan realisme advokat bergelut dengan waktu, bernafaskan logika dan rasionalisme. Walau, bagi kaum idealisme advokat, tidak sedikit yg berkelimpahan pundi pundi rupiah sebagai hasil/akibat. Namun bagi kaum realisme advokat, pundi pundi rupiah adalah tujuan akhir profesi advokat.
 
Ironis, bagi kaum realisme advokat, tidak sedikit yang mengejar pundi pundi rupiah malah hidup dengan keprihatinan yg akut.
 
Akhirnya, sependapat dengan Imanuel Kant, hati nurani (=moral) yg akan menjadi panglima terakhir bagi para advokat bergumul antara profesi dan penegak hukum.  
 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123