,
Pangkalpinang – Sewaktu kecil tentu kita mempunyai memori atau masa yang tak dapat dilupakan di tempat wilayah kita tinggal. Namun, masa lalu...
Pangkalpinang – Guna memberikan rasa nyaman dan aman ditengah masyarakat, pihak Pengelola Pasir Padi Bay bekerjasama di bidang keamanan...
Minggu, 04 Maret 2018
Subang, Fokusjurnal.com – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Laskar Indonesia [DPC LI] Pagaden, Kabupaten Subang, Agus Abeng mengukuhkan Ranting...
Jakarta – Pemerintah Provinsi [Pemrov] DKI Jakarta menerbitkan surat edaran terkait waktu operasional tempat hiburan malam. Aturan itu tertuang...
Jakarta – Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sosok Hutomo Mandala Putra atau yang biasa di sapa Tommy Soeharto ini, belum lama ini...
Jakarta – Pertemuan Dewan Pembina  Perkumpulan Wartawan Online [PWO] Independen NUSANTARA, Drs. H. Prabowo Soenirman, AK. MM dengan...
27 Januari 2018 | Dibaca: 246 Kali
Advokat : Antara Profesi dan Penegak Hukum

DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand] [foto/ist]

Oleh: DR. Andre Yosua M.M.H.M.A.Ph.D [cand]
AYM Legal Consultans
 
"ah, bayar pengacara (baca= advokat) itu mahal" , demikianlah kalimat yang sering terdengar diantara hiruk pikuk masyarakat yg tengah mengalami persoalan hukum. Bahkan, tidak jarang citra negatif terhadap advokat. Hal hal tersebut tidaklah tanpa alasan.
 
Ketika saya ingin merumuskan pengertian advokat, ada rasa dilematis yg bergejolak. Dilematis antara idealisme dan realisme yg berpelukan mesra ditemani oleh waktu. Bagi kaum idealisme, advokat adalah penegak hukum, dengan semangat fiat yustitia ruat caelum, berpegang pada semangat keadilan, bernilai kan kemanusiaan.
 
Bagi kaum realisme, advokat adalah profesi, pilihan real utk mengeruk pundi pundi rupiah dan asset, hingga bias makna kepada menghalalkan segala cara demi kemenangan semu.
 
Idealisme dan realisme advokat bergelut dengan waktu, bernafaskan logika dan rasionalisme. Walau, bagi kaum idealisme advokat, tidak sedikit yg berkelimpahan pundi pundi rupiah sebagai hasil/akibat. Namun bagi kaum realisme advokat, pundi pundi rupiah adalah tujuan akhir profesi advokat.
 
Ironis, bagi kaum realisme advokat, tidak sedikit yang mengejar pundi pundi rupiah malah hidup dengan keprihatinan yg akut.
 
Akhirnya, sependapat dengan Imanuel Kant, hati nurani (=moral) yg akan menjadi panglima terakhir bagi para advokat bergumul antara profesi dan penegak hukum.  
 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123