,
  Jakarta | Bagi penikmat kopi tentunya belum afdol jika belum mengunjungi Kedai KOPIMU yang terletak dibilangan Blok M Square, Jakarta...
Tangerang Selatan -Majelis Dzikir dan Istighosah Raudhah Al Hikam menjadi agenda utama rutinitas Dewan Pimpinan Daerah Forum Komunikasi Anak Betawi...
Jakarta - Persiapan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90 oleh panitia dari Lembaga Kota Tua Heritage (LKTH) terus dilakukan. Mulai dari audiensi,...
Jakarta |  Diklat Manajemen Keprotokolan perlu diadakan untuk memantapkan pemahaman mengenai manajemen keprotokolan Peningkatan Wawasan,...
Jakarta | Kesekian puluh kalinya PT Pisok Utama Wisata, sebuah perusahaan travel yang bergerak khusus di bidang penyelenggaraan Umroh dan Haji,...
Jakarta | Calon anggota legislatif DPRD DKI Jakarta,  Sutijan ,  dirinya,  menyatakan maju pada pemilihan calon anggota legislatif...
01 Februari 2018 | Dibaca: 247 Kali
Anies Terima Masukan Tokoh Betawi

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan [foto/ist]

Jakarta, Fokusjurnal.com – Wacana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berencana mengganti nama Jalan Mampang Raya hingga Jalan Buncit Raya menjadi Jalan AH Nasution akhirnya dihentikan. Spanduk-spanduk sosialisasi yang sudah ada di kawasan Mampang-Buncit terkait pergantian nama jalan itu pun segera dicopot.

Anies sapaan akrab Gubernur , mengatakan pergantian nama jalan membutuhkan proses panjang. Oleh karena itu, ia akan menghentikan semua sosialisasi dan spanduk-spanduk terkait pergantian nama jalan itu.

(Sosialisasi) dihentikan semuanya," kata Anies di Gedung Teknis, Jakarta Pusat, Kamis (1/2/2018).

Anies mengatakan, ia akan mengganti terlebih dahulu Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 1999 tentang Pedoman Penepatan Nama Jalan, Taman dan Bangunan Umum. Dengan adanya penggantian Kepgub, maka ia dapat melibatkan elemen masyarakat dalam menggodok nama jalan di Ibu Kota.

"Evaluasi semua prosesnya. Saya ingin ubah kepgubnya, dulu keputusan dikerjakan internal Pemprov. Saya ingin megubah agar proses penentuan nama melibatkan masyarakat komponennya sejarawah budayawan tata kota," kata Anies.

Mantan Mendikbud itu juga menyatakan akan mengubah mekanisme pengusulan pergantian jalan.

"Proses yang sekarang ada saya akan hentikan. Saya akan ubah dulu Kepgub dan kemudian mekanisme pengusulan dibuat terstruktur, jadi tidak bisa pengusulan diterima siapa saja, kemudian dieksekusi oleh siapa saja," terangnya.

Anies Baswedan mengaku hingga saat ini belum menandatangani surat persetujuan pergantian nama jalan. Ia menyebut masih ada proses yang harus dilalui sebelum nama jalan diganti.

"Belum (tanda tangan), yang namanya pergantian nama ada Kepgubnya jadi diikuti proses itu, tidak bisa sekonyong- konyong," tandasnya

Komunitas Betawi Layangkan Petisi

Komunitas Betawi menolak pergantian nama Jalan Mampang, Buncit dan sekitarnya yang terletak di Jakarta Selatan dengan nama Jalan Jenderal Besar AH Nasution. Penolakan itu di nilai keputusan itu tanpa melalui musyawarah.

Seperti diketahui, kemarin sejumlah tokoh Betawi melayangkan petisi diantaranya adalah :

1. JJ Rizal (Sejarawan dan Penerima Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta 2009)
2. Yahya A. Saputra (Seniman Betawi dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta)
3. Roni Adi (Ketua Umum Sikumbang Tenabang)
4. Fadjriah Nurdiarsih (Penulis, Editor Betawikita.id) 
5. Asep Setiawan (Ketua Umum Baca Betawi)
6. Muhammad Amrullah / Kojek Rapper Betawi ( Rapper/Seniman Betawi)
7. Rachmad Sadeli (Pustaka Betawi)
8. Syamsudin Bahar Nawawi (BETAKUN "BETAWI RUKUN")
9. G.J. Nawi (Penulis buku Betawi)
10. Lantur Maulana ( Ketua Umum Tjondet Kita Foundation)
11. Halimah (Peneliti Kajian Budaya)
12. Abdul Khoir (Dosen/Penulis buku Betawi)
13. Romdonih Faisal (Dosen)
14. H. Tatang Hidayat, SH (Ketua Komite Seni Budaya Nusantara DKI Jakarta).
15. Adhes Satria S (jurnalis Betawi)
16. Lahyanto Nadie (wartawan, dosen)
17. M Syakur Usman (wartawan, Sekjen Forum Jurnalis Betawi)
18. Abdul Salam (Ikatan Keluarga Betawi Asli / Ikaba)

 Peneliti kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan telah membuat petisi menolak upaya penggantian nama jalan tersebut.

"Sejumlah komunitas Betawi telah menandatangani petisi penolakan penggantian nama jalan itu. Kami harap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa menghentikan upaya penggantian nama jalan itu," katanya, Rabu (31/1/2018).

Menurut dia, nama Jalan Mampang dan Warung Buncit merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi di Jakarta. Karena itu, jangan sampai nama jalan tersebut berganti nama. Apalagi lebih seperempat abad terakhir sudah begitu banyak nama kampung dan jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap.

Misalnya, kata dia, di Pondok Gede, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 hektare, tapi sekarang sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Selain itu, ada Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan, yang bukan hanya namanya, tapi kampungnya pun sudah hilang.

"Kami menolak rencana itu," ujarnya.

Yahya menuturkan salah satu janji politik Anies adalah merayakan kebudayaan Betawi serta mengangkat harkat dan martabat orang Betawi. Karena itu, perkumpulan Betawi Kita menilai salah satu langkah yang penting dari hal itu adalah menyelamatkan sejarah orang Betawi yang hidup di dalam nama-nama kampung.

"Bukan malah menggantinya atau membiarkan diganti," ucapnya.

Menurut Yahya, pembangunan yang tanpa wawasan sejarah dan bernafsu itu bukan hanya menguasai wilayah secara fisik, tapi juga ingin menghapus ingatan dan semua memori budaya yang pernah hidup di wilayah masyarakat pendukung kebudayaannya.

Gilas roda pembangunan, kata Yahya, bukan saja telah membuat orang Betawi tergusur dari kampung kelahirannya. Bahkan, yang paling mengenaskan, memori sejarah mereka yang hidup di dalam nama-nama jalan dan kampung pun dihilangkan.

Toponimi di belahan dunia mana pun selalu terkait dengan asal-usul dan sejarah tempat tersebut. Banyak nama situs, kawasan, monumen, dalam kajian arkeologi yang sebenarnya menyimpan informasi lebih dari sekadar kandungan benda arkeologis yang berada di tempat tersebut.

Ada alasan dan latar belakang tertentu kenapa suatu nama dijadikan nama kampung atau lokasi tertentu. Karena itu, nama-nama kampung yang berbau lokal sangat penting sebagai bagian dari sejarah penduduk Jakarta.

"Kami sangat menyesalkan kebijakan aparat Pemprov DKI Jakarta," tutur Yahya.

Semestinya, Yahya menambahkan, DKI ikut mendukung kebudayaan Betawi, bukan malah menjadi bagian dari upaya mengganti nama jalan, yang merupakan identifikasi dari nama kampung. Dia meminta nama Jalan Mampang dan Warung Buncit Raya tetap dipertahankan. [dch/slm/yn]

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123