,
Surabaya |  Bak jamur di musim hujan, usaha kuliner seperti, kedai atau cafe kopi banyak bermunculan di beberapa daerah, khususnya di kota...
    Oleh : Djafar Badjeber, Pengamat Politik Bogor |  Manusia telah menjadi makhluk yang menakutkan belakangan ini. Manusia abad...
Batang  | Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa (TMMD) dilakukan secara terintegrasi bersama rakyat. Penyelenggaraan TMMD selama...
Jakarta | Asosiasi Pengelola Parkir Indonesia (Aspeparindo) akan mengandeng perusahaan asuransi demi memberikan kenyamanan pengguna saat parkir...
Jakarta | Usai mendapat pengesahan dan legalitas dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemkumham) dengan nomor  AHU-0014787 AH O1.O7...
Jakarta  |  Ditlantas Polda Metro Jaya menyiapkan rekayasa lalu lintas terkait Reuni 212 yang akan digelar di Monas, Jakarta Pusat. 1.459...
30 November 2018 | Dibaca: 111 Kali
Kapolsek Johar Baru Pernah di Kepung Keamanan Pakistan

Kompol Endy Mahandika bersama Martin Natalegawa mantan Menteri Luar Negeri

Jakarta | Rupanya, pengalaman berharga pernah dialami oleh kapolsek Johar Baru, Kompol. Endy Mahandika, SH. 
 
Pria,  jebolan Perwira Polri Sumber Sarjana Angkatan 2004 (PPSS) ini. Sebelumnya pernah bertugas sebagai ajudan  Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) yaitu Martin Natalegawa pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
 
Pria kelahiran Bangka Beltung ini, menceritakan segudang pengalamannya saat menjadi ajudan seorang menteri. 
 
18 negara yang pernah dikunjungi Endy dalam melakukan pengawalan kepada sang menteri,  negara Pakistan sangat terkesan bagi dirinya. 
 
Alasan Endy, berawal  tahun 2012 lalu. Saat itu,  rombongan SBY dan Menlu dan beberapa menteri lainnya turut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing - 8, di Istambul, Pakistan. 
 
D-8 merupakan perkumpulan negara-negara berkembang yang berpenduduk mayoritas muslim untuk mempererat kerja sama pembangunan. 
 
Kedatangan Presiden SBY beserta rombongan disambut oleh Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar, saat itu.
 
Selain Pakistan negara-negara lainnya yang termasuk dalam D-8 adalah Iran, Indonesia, Mesir, Nigeria, Turki, Bangladesh dan Malaysia.
 
Presiden SBY dan rombongan pun  masuk dan menuju ke tempat yang sudah disediakan dengan di pandu oleh pihak penyelenggara. Usai SBY dan para menteri duduk di bangku masing-masing. 
 
Insiden kecil terjadi di luar Istana Kepresidenan Pakistan tempat diselenggarakannya KTT D - 8.
 
Insiden kecil itu, terjadi antara pihak keamanan Pakistan yang menggunakan senjata lengkap,  menghadang rombongan Endy Mahandika ajudan menlu beserta Dirjen dan Direktur Kemenlu saat hendak menuju ke lokasi acara. 
 
Sontak, Endy Mahandika dan beberapa orang dari Kemenlu di buat  kaget atas penghadangan oleh pihak keamanan Pakistan yang disertai dengan senjata lengkap.
 
Endy Mahandika yang saat itu,  mengenakan jas dan dilengkapi dengan dasi itu. Berbincang -bincang dengan bahasa Inggris  dan menjelaskan kepada pihak keamanan Pakistan. Bahwa dirinya adalah seorang perwira polisi Republik Indonesia yang merupakan ajudan sang menteri.
 
"Saya seorang perwira kepolisian Republik Indonesia adalah ajudan menteri luar negeri republik Indonesia dan ini adalah dirjen dan direktur dari Kemenlu RI. Izinkan, kami masuk,  karena kami membawa berkas - berkas penting yang dibutuhkan oleh Pak Menteri di acara KTT D - 8 ini," kenang Endy,  kepada pihak keamanan Pakistan saat itu, kepada wartawan. Kamis (29/11/2018).
 
Usai Endy memberikan penjelasan serta memberikan keterangan kepada pihak keamanan Pakistan. Lalu, satu persatu laras panjang yang digenggam oleh pihak keamanan pun diturunkan. Sehingga rombongan Endy dan pihak Kemenlu,  akhirnya Endy dan rombongan Kemenlu diperbolehkan masuk.
 
Diperketatnya keamanan di Istana Kepresidenan Pakistan sebagai lokasi diselenggarakannya KTT D - 8. Karena negara tersebut sedang dirundung perang saudara, ketika itu. 
 
Bahkan, satu hari sebelum berlangsungnya diselenggarakan KTT D - 8, Kota Karachi, telah terjadi ledakan bom.
 
Menurut Endy, langkah yang diambil oleh pihak keamanan Pakistan, dinilai sudah melalui prosedur tetap (Protap). 
 
"Langkah, pihak keamanan Pakistan yang telah melakukan penghadangan kepada kami saat itu, sangat tepat. Karena negara itu, memang sedang mengalami  perang antar saudara. Namun, Alhamdullilah semua sudah dapat teratasi dengan baik sehingga saya dan dari kemenlu di perbolehkan masuk ke tempat diselenggarakannya KTT ," ujar Endy mantan ajudan Muladi Ketua Lemhannas RI ini,  saat bincang-bincang santai dengan wartawan, diruangannya, mengakhiri perbincangan. (yn).

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123