,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
01 Februari 2018 | Dibaca: 358 Kali
Mat Peci, Koordinator Gerakan Tangkap Ahok

Jakarta,Fokusjurnal. com – Tercatat dalam sejarah, khususnya sejarah pergerakan umat Islam Indonesia, pada tanggal 2 Desember 2016, yang kemudian disingkat menjadi Aksi Bela Islam 212.  Aksi melibatkan Mat Peci ini dikenal luas di kalangan umat Islam.

 

Aksi 212  dua tahun lalu itu berhasil menarik ratusan ribu umat Islam turun ke jalan dan  dipandang sebagai suatu yang sangat potensial, sehingga banyak komunitas  terbentuk  kemudian memakai nama 212. Namun hal itu disayangkan Mat Peci,  tokoh muda Betawi,  sebagai pelaku sejarah 212 kepada  awak media, Selasa (30/1), di Jakarta. 

 

“Perlu diingat Indonesia yang kita cintai ini adalah buah perjuangan para Ulama sampai titik darah penghabisan.  Pancasila sebagai falsafah negara dan perjuangan para Ulama harus dihargai.  Fenomena ini menjungkir-balikkan teori lama  bahwa suara umat Islam diwakili oleh beberapa tokoh atau ormas saja,  sangat banyak sekali umat Islam yang tidak terikat apapun, tapi berjuang untuk negeri ini ” kata Mat Peci,  dengan suara lantang.

 

Lebih lanjut Mat Peci mengingatkan masyarakat agar tidak lupa akan sejarah.  “ Sebelum 212 terjadi, kami sudah bergerak  dengan Gerakan Tangkap Ahok (GTA), dimana sejumlah aktivis  berunjuk rasa di depan Gedung KPK, demo ini kemudian diikuti PW GPII DKI Jakarta, KOBAR, IMM Jakarta, LAKRI DKI Jakarta, HIMMAH Al Wasliyah,lakri kiakarta, LAKRI DKI Brigade PII, KOPMA GPII, SABET, KAHMI Jakarta dan Suara Pemuda Jakarta. Semua gerakan itu ,  kami yang memulai” ungkap Mat Peci , koordinator aksi GTA tersebut.

 

Mat Peci yang dikenal karena aksinya menantang Ahok ini, menuturkan, Euforia gerakan 212 itu yang dengan cepat bertransformasi dalam bentuk komunitas-komunitas, dengan mengupayakan dan mengkonsolidasi ulang kekuatan 212 .  Aksi ini juga dilakukan dengan menyelenggarakan acara reuni alumni 212, tepatnya setelah aksi tersebut terjadi. 

 

“Konsolidasi tersebut tentunya membutuhkan energi yang besar, sebab sudah tidak ada lagi musuh bersama yang bisa menyatukan mereka. Satu hal yang perlu diingat dan kita sadari adalah bahwa kita harus tentang bagaimana niat awal kita bersatu dan melakukan pergerakan  dalam aksi 212  ini.”tuturnya.

 

Jika pun ada Aksi Bela Islam 212 dalam bentuk komunitas yang mengatas namakan 212,  tidak semasif tahun lalu, berdirinya komunitas komunitas  seperti ini merupakan hal yang sangat positif dan dapat memperkuat ukhuwah islamiyah, namun akan sangat kontra produktif apabila aksi ini dilakukan sebagai penggalangan kekuatan untuk menekan pemerintah dan mencapai tujuan politik tertentu. (yn/rs)

 

 

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT