,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
31 Januari 2018 | Dibaca: 317 Kali
Nama Jalan akan Diganti, Komunitas Betawi Layangkan Petisi

rambu penunjuk jalan [foto/ist]

Jakarta, Fokusjurnal.com – Komunitas Betawi menolak pergantian nama Jalan Mampang, Buncit dan sekitarnya yang terletak di Jakarta Selatan dengan nama Jalan Jenderal Besar AH Nasution. Penolakan itu di nilai keputusan itu tanpa melalui musyawarah.

 Peneliti kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan telah membuat petisi menolak upaya penggantian nama jalan tersebut.

"Sejumlah komunitas Betawi telah menandatangani petisi penolakan penggantian nama jalan itu. Kami harap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa menghentikan upaya penggantian nama jalan itu," katanya, Rabu (31/1/2018).

Menurut dia, nama Jalan Mampang dan Warung Buncit merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi di Jakarta. Karena itu, jangan sampai nama jalan tersebut berganti nama. Apalagi lebih seperempat abad terakhir sudah begitu banyak nama kampung dan jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap.

Misalnya, kata dia, di Pondok Gede, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 hektare, tapi sekarang sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Selain itu, ada Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan, yang bukan hanya namanya, tapi kampungnya pun sudah hilang.
"Kami menolak rencana itu," ujarnya.

Yahya menuturkan salah satu janji politik Anies adalah merayakan kebudayaan Betawi serta mengangkat harkat dan martabat orang Betawi. Karena itu, perkumpulan Betawi Kita menilai salah satu langkah yang penting dari hal itu adalah menyelamatkan sejarah orang Betawi yang hidup di dalam nama-nama kampung.

"Bukan malah menggantinya atau membiarkan diganti," ucapnya.

Menurut Yahya, pembangunan yang tanpa wawasan sejarah dan bernafsu itu bukan hanya menguasai wilayah secara fisik, tapi juga ingin menghapus ingatan dan semua memori budaya yang pernah hidup di wilayah masyarakat pendukung kebudayaannya.

Gilas roda pembangunan, kata Yahya, bukan saja telah membuat orang Betawi tergusur dari kampung kelahirannya. Bahkan, yang paling mengenaskan, memori sejarah mereka yang hidup di dalam nama-nama jalan dan kampung pun dihilangkan.

Toponimi di belahan dunia mana pun selalu terkait dengan asal-usul dan sejarah tempat tersebut. Banyak nama situs, kawasan, monumen, dalam kajian arkeologi yang sebenarnya menyimpan informasi lebih dari sekadar kandungan benda arkeologis yang berada di tempat tersebut.

Ada alasan dan latar belakang tertentu kenapa suatu nama dijadikan nama kampung atau lokasi tertentu. Karena itu, nama-nama kampung yang berbau lokal sangat penting sebagai bagian dari sejarah penduduk Jakarta.

"Kami sangat menyesalkan kebijakan aparat Pemprov DKI Jakarta," tutur Yahya.

Semestinya, Yahya menambahkan, DKI ikut mendukung kebudayaan Betawi, bukan malah menjadi bagian dari upaya mengganti nama jalan, yang merupakan identifikasi dari nama kampung. Dia meminta nama Jalan Mampang dan Warung Buncit Raya tetap dipertahankan.
 
PETISI PERKUMPULAN BETAWI  :

Yth. Bapak Gubernur Anies Baswedan, perlu Bapak ketahui bahwa selama lebih seperempat abad terakhir ini sudah begitu banyak nama-nama kampung dan jalan-jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap. 
 
Misalnya, Pak, di Pondok Gede, ada nama Kampung Dua Ratus karena luasnya 200 ha, tapi sekarang sudah hilang dan masuk Kelurahan Halim. Seperti juga Kampung Pecandran dan Kampung Petunduan yang bukan hanya namanya, tetapi kampungnya pun sudah hilang.
 
Pembangunan yang tanpa wawasan sejarah dan bernafsu itu bukan hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga ingin menghapus ingatan dan semua memori budaya yang pernah hidup di wilayah masyarakat pendukung kebudayaannya. Gilas roda pembangunan bukan saja telah membuat orang Betawi tergusur dari kampung kelahirannya. Bahkan yang paling mengenaskan, memori sejarah mereka yang hidup di dalam nama-nama jalan juga kampung pun dihilangkan. 
 
Oleh sebab itu, mengingat salah satu janji politik  Pak Gubernur Anies Baswedan adalah merayakan kebudayaan Betawi dan mengangkat harkat martabat orang Betawi, maka kami dari perkumpulan Betawi Kita menilai salah satu langkah yang penting dari hal itu adalah menyelamatkan sejarah orang Betawi yang hidup di dalam nama-nama kampung. Bukan malah menggantinya atau membiarkan diganti. 
 
Toponimi di belahan dunia mana pun selalu berkait dengan asal-usul dan sejarah tempat tersebut. Banyak nama situs, kawasan, monumen, dalam kajian arkeologi yang sebenarnya menyimpan informasi lebih dari sekedar kandungan benda arkeologis yang berada di tempat tersebut. Ada alasan dan latar belakang tertentu kenapa suatu nama dijadikan nama kampung atau lokasi tertentu. Maka, nama-nama kampung yang berbau lokal ini sangat penting sebagai bagian dari sejarah penduduk Jakarta.
 
Oleh karena itu, kami sangat menyesalkan kebijakan aparat Pemprov DKI Jakarta, yang seharusnya ikut mendukung kebudayaan Betawi, tapi justru telah menjadi bagian dari upaya mengganti nama jalan yang merupakan identifikasi dari nama kampung seperti yang terlihat saat ini pada Jalan Mampang dan Warung Buncit Raya.
  
Dengan demikan pernyataan sikap ini kami sampaikan. Kami memohon agar Pak Anies Baswedan menyetop upaya penggantian nama Jalan Mampang  dan Buncit Raya itu--karena merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi--dengan nama Jenderal Besar AH Nasution. (slm/yn)
 
 
 
 

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT