,
Jakarta | Peran aktif Bhabinkamtibmas sangatlah vital di tubuh Polri di tengah masyarakat. Salah satunya Aiptu Maskur Bhabinkamtibmas Kelurahan...
Jakarta | Agama mengajarkan kita semua untuk selalu bersedekah, dengan tujuan membantu sesama, mensucikan harta dan bekal pahala di akhirat kelak....
Depok | Anggota Jaguar Polresta Depok menemukan rumah kosong di Jalan Tole Iskandar (Simpang Depok), Sukmajaya Kota Depok, Selasa (26/3/2019) yang...
Jakarta | Wirausaha Muda Nusantara (Wimnus) melaksanakan kegiatan Seminar Kewirausahaan bertempat di Creatif Stage Lantai 3 Gedung SMESCO,...
Jakarta | Pedagang pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur siap mendukung pelaksanaan pemilu damai pada 17 April mendatang. Mereka secara bersama-sama...
Jakarta | Ketua Forum Travel Partner Indonesia (FTPI), Drs.H.Edy H mendatangi PT. Syafar Arroyan Travelindo di Ruko Maliugu,  Jalan Pahlawan...
13 November 2018 | Dibaca: 550 Kali
SR Caleg PDI Perjuangan Memaafkan Warga

Asun bersama Slamet Riyadi usai Melakukan Perdamaian

Jakarta | Banner atau spanduk salah satu alat media sosialisasi seseorang maupun perusahaan sangat dibutuhkan agar orang atau perusahaan itu dapat dikenal oleh publik .

Pada tahun politik ini, banyak kita jumpai spanduk dan banner yang bertebaran dan berdiri  kokoh menghiasi  jalan raya maupun di sudut-sudut gang, hal itu guna mensosialisasikan bagi para calon yang tengah mengikuti pemilihan Presiden maupun Legislatif.

Salah satunya adalah Slamet Riyadi (SR) Calon Legislatif (Caleg) DPRD DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Dapil 1 Jakarta Pusat, nomor urut 6 itu merasa dirugikan.
 
 
Pasalnya, banner berukuran 30 × 60 yang terpasang di tiang listrik telah dicopot oleh Tjan Kim Sun (Asun)  warga Rt 07/9, Kelurahan Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, dan dijadikan sebagai alat media komersial penjualan rumahnya, yang terjadi pada jumat malam (8/11) lalu.
 
Sontak, apa yang telah dilakukan Asun membuat berang komunitas SR sebagai tim pemenangan Slamet Riyadi.
 
 
Atas kejadian itu, komunitas SR langsung menghubungi Memed sapaan akrab Slamet Riyadi yang saat itu tengah berada di Surabaya, Jawa Timur.

Memed yang mendapat kabar tersebut , langsung meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta untuk mencari tahu motif pencopotan bannernya yang dilakukan oleh Asun.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta Memed berpesan kepada para pendukungnya tidak terpancing dan melakukan tindakan anarkis.

Usai sampai Jakarta, Memed dan juga komunitas SR melakukan pertemuan dengan Asun yang di saksikan oleh ketua RT dan RW setempat. Kepada wartawan Memed mengatakan pencopotan banner yang dipasang di tiang listrik dekat rumahnya itu, katanya turun kebawah dan mengganggu serta menghalangi pintu gerbangnya.

​​
"Betul mas, ada pencopotan banner saya oleh tim saya bahwa banner di jalan bungur telah diturunkan oleh warga dan dibuat iklan rumahnya,"kata Memed sapaan akrabnya saat di hubungi oleh wartawan.
 
Namun, lanjut Memed, kejadian tersebut telah diselesaikan secara musyawarah yang disaksikan oleh RT dan RW setempat.
 
"Kami dan tim telah memaafkan pak Asun yang mana pak Asun kebetulan adalah warga bungur, tempat tinggal saya juga," terang Memed, Selasa (12/11).
 
Memed juga menghimbau kepada masyarakat bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku bentuk pembelajaran.
 
"Padahal saya dalam hal ini dirugikan namun dalam permasalahan ini kami ambil dengan cara kekeluargaan. Kami juga meminta kepada masyarakat agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum. Apa yang dilakukan oleh Pak Asun suatu pembelajaran buat kita,"tandasnya.
 
Semtara Eky Idham, Seketaris Komunitas SR, mangatakan bahwa dirinya dapat info dari anggota SR.
 
"Saya cek ke lokasi memang betul adanya. Bahwa banner pak Slamat Riyadi yang kami pasang disekitar lingkungan Rt 7/9 tidak ada di lokasi. Setelah kami cek ternyata banner yang terpasang di tiang listrik di sekitar rumah Pak Asun di jadikan iklan komersil penjualan rumahnya," tegas Eky.
 
Ia menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku sudah melanggar hukum.
 
"Inikan tahun politik, pak Asun harusnya bisa tahu tentang UU Bawaslu No. 10 tahun 2015 pasal 183 huruf a dan g,"ujarnya.
 
Kejadian bermula ketika Komunitas SR memasang banner Calon Legislatif Slamet Riyadi caleg PDI-P, di tiang listrik dilingkungan sekitaran Rt 07/9 di wilayah Bungur. Namun, banner yang terpasang di tiang listrik itu merosot dan mengenai pintu gerbang rumah Asun oleh pelaku banner itu diamankan. Namun, Komunitas SR mengecek kebenaran info hilangnya banner.
 
 Setelah dilakukan pengecekan oleh Komunitas SR, banner yang hilang tersebut akhirnya ditemukan, namun Komunitas SR merasa kaget dan marah bahwa banner yang dipasang itu telah di balik oleh pelaku dan oleh pelaku banner itu dipergunakan untuk iklan komersial penjualan rumahnya yang terpasnag di pagar rumahnya.(yn)
 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123