,
Jakarta | Ariq Motor Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang otomotif, dibilangan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat ini memiliki rasa...
Jakarta I Forum Silaturahmi RT/RW se Kelurahan Tanah Tinggi  mengadakan kegiatan Silaturahmi bersama 3 Pilar Kecamatan Johar Barau, Jakarta...
Kamis, 17 Oktober 2019
Jakarta | H. Cipta Wahyudi Okis Ketua Dewan Pimpinan Cabang Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten (DPC BPPKB) Jakarta Pusat memberikan...
Jakarta | Pergunu DKI Jakarta dan PT Balai Pustaka lakukan Penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama (MoU) bertempat di Cafe Sastra, beberapa waktu...
Jakarta |Kapolsek Johar Baru Komisaris Polisi (Kompol) Supriadi.SH.MH bersama Mayor Dasim Danramil 08 Johar Baru ngopi bareng dengan mahasiswa STIAMI...
Jakarta |Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Pusat menyelenggarakan kegiatan Literasi di Kampung Johar Baru dengan...
18 Desember 2018 | Dibaca: 162 Kali
Eggi Sudjana : Wartawan Harus Jujur, Berani dan Berpihak Kebenaran

Jakarta | Setiap wartawan harus memiliki integritas dan berpihak kepada kebenaran dalam menjalankan profesinya, jujur, tegas dan berani. “Jadi, harus berani memaparkan  fakta,” jelas pengacara kondang dalam orasinya  di Musyawarah Besar (Mubes) Sekretariat Bersama (Sekber) Pers Indonesia ,  di Gedung Sasono Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Selasa (18/12/2018) siang.
 
Menurut Eggi, setiap insan pers harus bersikap netral sesuai tuntutan profesinya , sesuai dengan fakta-fakta tanpa ada kemasaan. “Jadi harus mandirilah,” jelas Eggi, yang juga menjadi lawyer dari Sekber yang mendapat tepukan tangan para peserta.  
 
“Jangan ada fakta tutup mata,” jelas Eggi tertawa. Dia juga memberikan motivasi kepada insan pers, terutama di Sekber, agar terus berjuang demi kebebasan pers yang sehat, pers yang netral dan independen.
Keberadaan Eggi di Sekber, adalah  bagian dari Sekber. Dia datang memberikan orasi atas persetujuan dan undangan dari Sekber.  
Sekedar bukti, mantan Pejudo Nasional ini, menyebut saat media-media dituding Dewan Pers sebagai media abal-abal, maka Eggi berada di garda depan. Dia memberikan somasi agar Dewan Pers mengajukan minta maaf, sekaligus bertanggungjawab terhadap tewasnya M Yusuf sebagai momentum lahirnya Sekber yang dinilai sangat diskriminatif terhadap media massa, khususnya online.
“Itu dia yang tidak diketahui para peserta,” tegas Brando.
 
Karena bagian dari Sekber, maka Eggi tahu persis penderitaan media ataupun wartawan yang tergabung di Sekber. Mereka menuntut kesetaraan dalam menjalankan tugas profesinya, terutama di kalangan pemerintah.  Dari mulai soal UKW wartawan, terdaftar atau terverifikasi, termasuk ditolak saat mengajukan wawancara.
 
“Semua itu tidak lepas dari goodwill pengusaha yang tidak berpihak kepada sebagian pers, kecuali yang mainstream,” jelas Brando. 
 
Nah, saat orasi itu,  Eggi menyebut ada Pemilihan Presiden (Pilpres) yang bisa menjadi momentum pers yang tergabung dalam Sekber untuk meningkatkan jati dirinya baik sebagai pers maupun wartawan. 
 
“Pilpres itu ya kan ada dua hasilnya,  berubah atau melanjutkan. Sayangnya Bang Eggi menyebut ganti presiden. Kalimat itu yang dinilai kampanye. Padahal, kita tahu maksudnya,” papar Brando bersemangat.  
 
Kata ganti presiden itu yang menyulut sebagian peserta maju ke depan. Mereka berteriak agar menghentikan orasinya. Untunglah panitia siap memenangkan peserta sehingga Mubes terus berlangsung.
Wilson Lalengke dan Heintje Mandagie, Ketua dan Sekretaris panita menyatakan minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Eggi Sudjana atas peristiwa yang tidak etis tersebut.

“Itu tidak ada kaitannya dengan politis. Kami atas penitia menyatakan mohon maaf kepada beliau,” ujar Heintje yang disambut applaus dari sebagian peserta Mubes.

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT