,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
16 November 2018 | Dibaca: 184 Kali
Peran Pemuda Milenial Dalam Politik

Tangerang Selatan | Mensikapi peran pemuda pada tahun politik 2019 mendatang, di nilai sangat penting untuk mengambil bagian dari perhelatan tersebut. 

Sejalan dengan itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM),
BEM Perguruan Tinggi Mahasiswa (PTM) Se-Indonesia menggelar Rembug Nasional mengangkat tema, " Peran Generasi Milenial Dalam Menyikapi Tahun Politik 2019”.

Kegiatan yang di dominasi dari kalangan pemuda dan mahasiswa itu, diselenggarakan di Fifo Cafe, Jl. H. Djuanda, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (15/11/2018).

Dikatakan, Rahmat Syarif selaku Koorpresna PTM Se-Indonesia, bahwa peran pemuda milenial sangat peting,  dalam pentas dan ruang publik di tahun politik 2019.

Ia juga pernah mengungkapkan kepada Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI, perihal peran pemuda milenial agar tidak menjadi pasukan nasi bungkus.

Peran pemuda lanjut Koorpresna Se-Indonesia ini, semestinya memiliki sikap yang mumpuni dan tidak sekedar menjadi pasukan nasi bungkus. Selain itu, Syarif menekankan agar pemuda milenial juga lebih berperan serta menujukkan sikap dan marwah kepemudaan sehingga didengar oleh orang lain.

"Dalam momentum tahun politik 2019 ini kita harus menunjukkan sikap dan marwah kepemudaan sehingga didengar oleh orang lain. Jangan terpecah dan satukan kekuatan." Ujarnya, kepada wartawan.

Sejalan dengan itu, Syarif mengungkapkan dalam mensikapi kebijakan Pemerintah, pemuda milenia, "Harus mengubah pola dari yang melulu protes menjadi langkah-langkah korektif,"tandasnya.

Selain itu, Ia menyerukan untuk tidak termakan dengan adanya berita palsu (hoax) yang menyebar di dunia maya, terutama media sosial, yang nantinya akan membawa implikasi tersendiri bagi setiap kalangan. Bagi kalangan remaja atau pemuda, maraknya berita palsu perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Sebab, kita tahu, berita palsu (hoax) banyak ditebarkan di media sosial, sedangkan pengguna media sosial banyak dari kalangan anak muda.

"Bagi kami berita hoax sangat berbahaya dan pemuda harus menghindari hal itu. Karena ini dapat merusak serta menimbulkan perpecahan bangsa dan para pemuda itu sendiri. Untuk itu kami menghimbau kepada pemuda agar tidak termakan dengan berita-berita hoax," ujarnya.

Sementara itu, Cecep Hidayatullah, Ketua Presidium Nasional Perguruan Tinggi Agama Islam mengatakan bahwa generasi muda sebagai agent of change atau agen perubahan sosial merupakan harapan masyarakat Indonesia untuk menjadikan negara ini jauh lebih sejahtera. Namun, lanjut Cecep, peran pemuda lebih cendrung cuek di kancah politik.

"Generasi muda harus memiliki peran menjadi pemimpin yang akan melanjutkan dan mengendalikan penyelenggaraan pemerintahan mendatang. Kepedulian kaum muda terhadap politik sangat penting bagi kemajuan kehidupan negara ke depan. Sudah saatnya, kita sebagai pemuda milenial tak bergaya apatis dengan politik,"katanya.

Ia mempersentasikan peran pemuda dalam politik, ada sekitar 40 %  yang apatis, lalu 25 % adalah pemuda/mahasiswa yang aktif, dan 35 % adalah pemuda/mahasiswa spektaktor meraka aktif dan bergerak namun semu.

"Peran pemuda spektator seperti ini  cendrung ikut-ikutan. Orang ke A mereka turut ke A, artinya tidak mempunyai pendirian. Dan pemuda seperti ini, mudah sekali termakan dengan isu yang berkembang, apalagi sekarang inikan banyak sekali berita-berita hoax yang tidak tahu akar permasalahannya. Jadi kami sebagai pemuda turut serta untuk mengingatkan agar pemuda harus mempunyai prinsif dan tidak mudah termakan dengan isu-isu yang ada terutama di media sosial,"pungkasnya.

Perhelatan yang digagas oleh BEM PTM Se Indonesia ini mengudang beberapa tokoh politik dan pengusaha nasionall seperti Fauzi Amro (Anggota DPRRI), Dimas Oky Nugroho (Pengusaha Muda Sosiopreneur dan Ali Muthohirin (Ketua DPP IMM 2016-2018). (yn/nv)

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT