,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Jakarta  | Dalam rangka membentuk nilai-nilai Dasar Profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil) melalui Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam...
Jakarta | Harianto Badjoeri (HB) menerima kunjungan lintas etnis, kunjugan lintas etnis tersebut bertujuan merekatkan silaturahmi antar etnis yang...
Jakarta | Ketua Dewan Pimpinan Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten Jakarta Pusat H.Cipta Wahyudi Okis. SH  memenuhi undangan...
30 Agustus 2018 | Dibaca: 189 Kali
Atlet dan Pelatih Malaysia di Bully Indonesia Membela



PALEMBANG - Membully seseorang karena alasan tak jelas, tentu tak tak dibenarkan. Tapi, siapa mampu menahan para Netizen yang maha benar ini? Berpulang pada hati nurani. Para pencinta skateboard Indonesia memberi dukungan penuh kepada atlet putri Malaysia Fatin Syahirah Roszizi yang mendapat hasil kurang memuaskan pada final Asian Games 2018 di Jakabaring Sport City, Rabu (29/8).

Fatin jadi bulan-bulanan netizen Malaysia karena hanya menduduki posisi kedelapan pada final nomor street dengan nilai 5,4.
Setelah perlombaan usai, netizen Malaysia membanjiri kolom komentar akun media sosial remaja 16 tahun itu dengan kalimat bernada kecaman. 

Ada yang menyebut Fatin memalukan kontingen Malaysia yang berlaga di Asian Games 2018. Ada juta yang menilai Fatin hanya menghamburkan uang negara dan waktu. 

Kecaman demi kecaman dari netizen membuat Fatin memilih menghapus semua unggahannya di Istagram. Terhadap semua itu, ia hanya mengunggah 1 kata:  Sorry. Fatin juga menambahkan lambang bendera Malaysia di belakang kata sorry.

Perlakuan yang diterima Fatin diangkat oleh beberapa media. Salah satunya adalah laman Stadium Astro yang mengunggah berita dengan judul Asian Games: Malaysian Skateboarder Deletes Instagram Post After Abuse.

Insan skateboard Indonesia sontak menunjukkan dukungan kepada remaja berjilbab itu. 

Competition Manager Skateboard Asian Games 2018 Rico Pramono mengatakan, 
Fatin adalah skateboarder yang memberikan dampak sangat besar bagi atlet wanita.

“Sebab, tidak banyak cewek yang berani main skateboard. Dia bisa jadi panutan buat cewek-cewek muda sekarang,” kata Rico, Kamis (30/8).

Ia menambahkan, saat ini bukan momen yang tepat menghakimi para atlet yang sudah berjuang di Asian Games 2018. 

“Kita harus dukung 100 persen, bukannya malah mem-bully hasil akhirnya. Di balik hasil akhirnya ada banyak kerja keras, keringat, dan tangisan yang dia teteskan sebelum mengikuti event ini,” ujar Rico.

Pelatih timnas skateboard Indonesia Yudi Toengkagie juga tak mau ketinggalan menyatakan dukungannya kepada Fatin.

Menurut Yudi, Fatin tak layak dicaci meski gagal menjadi juara di Asian Games 2018.
"Fatin sudah memberikan yang terbaik.
Poinnya adalah dia sudah mau tampil dengan percaya diri. Saya support dia. Dia akan menjadi skater andal. Semua orang pasti belajar, begitu juga dengan skateboarder. Keep skate, Fatin,” ujar Yudi. 

Peraih medali perunggu dari cabang Skateboard, Pevi Permana Putra pun mendukung penuh perjuangan Fatin.
Menurut Pevi, para netizen yang maha benar dan suci biasanya hanya melihat hasil akhir.

“Tolong dihargai bagaimana perjuangan atlet mulai dari ikut training center sampai hari-h, meninggalkan keluarga, sekolah pekerjaan, itu semua lihatlah. Apalagi seperti Fatin yang baru berusia 16. Kasihan sekali untuk mentalnya. Harusnya kan didukung, bukan dicerca. Atas nama atlet saya bicara, kita juga tak mau dapat perak atau perunggu. Kita maunya ya dapat emas, tapi semua proses berjalan ada yang sesuai target ada yang diluar. Jadi bukan kita mau seperti itu. Coba jadi atlet biar ikut merasakan. Seperti atlet kita Sanggoe Darma Putra juga yang akhirnya hanya meraih medali perak karna kalah beberapa detik. Ya itu bukan maunya Sanggoe. Dia mencoba trik yang lebih baik untuk meraih emas dengan hasil terbaik. Tapi kalau jalannya justru gagal ya apa boleh buat. Atlet sudah berusaha. Hargailah keringat dan jerih patah atlet. Kita juga manusia,” tutur Pevi. (nn/yn)

Kantor Redaksi :

JALAN JOHAR BARU RAYA
JAKARTA PUSAT