,
Surabaya |  Bak jamur di musim hujan, usaha kuliner seperti, kedai atau cafe kopi banyak bermunculan di beberapa daerah, khususnya di kota...
    Oleh : Djafar Badjeber, Pengamat Politik Bogor |  Manusia telah menjadi makhluk yang menakutkan belakangan ini. Manusia abad...
Batang  | Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa (TMMD) dilakukan secara terintegrasi bersama rakyat. Penyelenggaraan TMMD selama...
Jakarta | Asosiasi Pengelola Parkir Indonesia (Aspeparindo) akan mengandeng perusahaan asuransi demi memberikan kenyamanan pengguna saat parkir...
Jakarta | Usai mendapat pengesahan dan legalitas dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemkumham) dengan nomor  AHU-0014787 AH O1.O7...
Jakarta  |  Ditlantas Polda Metro Jaya menyiapkan rekayasa lalu lintas terkait Reuni 212 yang akan digelar di Monas, Jakarta Pusat. 1.459...
27 November 2018 | Dibaca: 118 Kali
Astra di Duga Turut Sponsori Peleburan "Aki Bekas"

Jakarta | Banyaknya peleburan aki bekas liar, menimbulkan bahaya terhadap masyarakat yang ada di sekitar pusat peleburan aki bekas.
 
Berdasarkan hasil investigasi, Group Perusahaan otomotif ASTRA bahkan diduga mensponsori maraknya peleburan liar aki bekas.
 
Dugaan ini berdasarkan hasil investigasi dan penelitian Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia, yang menemukan bukti yang kuat bahwa PT Indra Eramulti Logam Industri (IMLI) sebagai Pemasok Utama perusahaan aki/battery Astra, tidak mengolah/ mendaur ulang aki bekas sesuai dengan Ketentuan dan Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup.
 
Perusahaan yang berlokasi di jalan Gunung Gangsir, Beji, Pasuruan, Jawa Timur itu tetap membeli Timah Batangan dari Pelebur Liar yang membakar aki bekas dengan peralatan seadanya. 
 
"Kami punya bukti lapangan yang faktual dan sangat valid. Selain itu kami juga memiliki bukti bahwa PT. IMLI juga membuang limbah pabrik yang masih mengandung Timah Hitam ke pembakar liar. Dengan praktek seperti ini pasti IMLI mendapatkan keuntungan besar dan bisa memberikan harga murah kepada Astra, yang ingin mencari keuntungan besar usaha di Indonesia," ungkap Direktur Eksekutif Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia, Uyus Setia Bakti, Minggu, (18/11/2018) di Jakarta, lalu kepada wartawan.
 
Ketika ditanya apa saja langkah yang akan dilakukan oleh Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia menyikapi temuan investigasi tersebut, dengan tegas Uyus mengatakan pihaknya akan segera mengadukan permasalahan ini kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Komisi VII DPR-RI agar segera menindak dan mengusut tuntas masalah ini.
 
Selanjutnya Uyus menambahkan, di zaman sekarang, di mana semua negara termasuk Indonesia, berlomba-lomba memelihara lingkungan tetap baik untuk bisa diwariskan kepada anak cucu kita dan semua penduduk Indonesia bisa menikmati lingkungan yang baik, Astra sebagai perusahaan besar seharusnya ikut menjaga kelestarian lingkungan. 
 
Faktanya, hari ini malahan ada perusahaan asing yang tidak peduli dan hanya mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya untuk dikirim ke pemegang sahamnya di luar negeri yaitu di Singapura. 
 
Tentu saja praktek bisnis seperti itu harus kita tindak tegas, jangan sampai terus-menerus merusak alam dan merongrong kesehatan (kecerdasan) penduduk Indonesia.
 
Demikian Uyus mengakhiri komentarnya dengan sangat serius.
Perkembangan ekonomi Indonesia yang pesat akhir-akhir ini membuat pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia meningkat. 
 
 Jalan-jalan Tol dan jalan Non Tol dibangun oleh Pemerintah di mana-mana sehingga mempermudah transportasi dari setiap kota dan daerah ke kota dan daerah lainnya .
Akibat dari perkembangan tersebut, salah satu group usaha yang diuntungkan adalah group Astra yang mempunyai usaha utama yaitu memproduksi dan menjual mobil, sepeda motor dan komponen kendaraan bermotor di Indonesia.  
 
Group ini sebagian sahamnya dimiliki oleh orang/ perusahaan asing yaitu perusahaan dari negara tetangga, Singapura.
 
Aki/battery (yang diproduksi dari bahan logam Timah Hitam) sebagai salah satu komponen utama dari kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) yang juga menjadi bagian dari bisnis group Astra, produksi dan penjualannya ikut naik seiring dengan naiknya penjualan kendaraan bermotor tersebut.
 
Aki/battery setelah tidak dipakai dan menjadi aki bekas adalah benda yang berbahaya dan beracun. Secara Peraturan dan Perundangan Republik Indonesia, Aki Bekas ini dikategorikan sebagai Limbah Bahan Beracun Berbahaya ( LB3 ), sehingga harus dan wajib dikelola dengan di-daur ulang secara hati-hati dan dengan prosedur dan metode proses yang benar serta peralatan khusus.  Tanpa hal-hal tersebut maka akan mengakibatkan dampak kerusakan lingkungan berupa pencemaran tanah, air dan udara yang sangat serius berkepanjangan.
 
Debu dan asap yang dihasilkan sangat berbahaya untuk kesehatan manusia (terutama kecerdasan anak)  karena asap dan udara tersebut mengandung Timah Hitam dan Asam Sulfat, demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia, Uyus Setia Bhakti. (gun/yn) 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123