,
Jakarta | Anak Depan Puskesmas (Andepus) Kramat Pulo Gundul, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, panitia merayakan puncak hari Kemerdekaan Republik...
Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP FORKABI) menyelenggarakan pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha 1440...
Jakarta | Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Harry Kurniawan, SIK, MH) memberikan bantuan berupa sapi qurban kepada...
Minggu, 25 Agustus 2019
Jakarta - Komunitas Anti Tawuran ( Komat) menggelar acara Hari Ulang Tahun  yang ke - 3 tahun. Kegiatan yang digelar di depan pos RW 01...
Jakarta | Guna meningkatkan keimanan bagi jajaran, Polsek Johar Baru, Polres Metro Jakarta Pusat melaksanakan kegiatan rutin pembinaan rohani dan...
Pasca kebakaran yang terjadi di Jalan Kramat Pulo Gundul RW. 02 / 09 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat,  Senin...
14 November 2017 | Dibaca: 138 Kali
Jatah untuk Setnov dari e-KTP diungkap di pengadilan

Jakarta - Rekaman pembicaraan milik Direktur Biomorf Lone LLC Johannes Marliem telah mengungkapkan jatah untuk Ketua DPR Setya Novanto dalam proyek KTP-Elektornik.

"Ya hitung-hitungan Andi (Narogong) dan Anang (Sugiana Sudihardjono) terkait e-KTP, terkait jatah uang untuk SN (Setya Novanto)," kata mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Sugiharto, dalam sidang pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin.

Sugiharto menjadi saksi untuk Andi Agustinus alias Andi Narogong yang didakwa mendapatkan keuntungan 1,499 juta dolar AS dan Rp1 miliar dalam proyek pengadaan e-KTP yang seluruhnya merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun. Sedangkan Anang Sugianayang juga sudah menjadi tersangka dalam kasus yang sama adalah Direktur PT Quadra Solutions, salah satu anggota konsorsium PNRI pemenang tender e-KTP.

"Itu di ruangan saya, ini pertemuan awal. Setiap Johamnes ketemu saya tanpa Anang, selalu minta saya tagihkan utang ke Anang," tambah Sugiharto.

Menurut Sugiharto, antara Anang, Andi Narogong dan Johaness Marliem, perhitungan untuk pembiayaan e-KTP belum jelas.

"Pembicaraan ini untuk Andi, Andi itu untuk bosnya, jumlahnya belum pasti yang yang jelas kalau bisa Rp100 miliar," ungkap Sugiharto.

Namun Sugiharto saat itu meminta agar jatah untuk bos Andi hanya Rp60 miliar.

"Saya minta dihitug dulu sama Fahmi yang tahu cost lapangan, lalu yang memodali pertama Anang dulu, kalau minta duit ke Anang, walaupun bukan duit Anang ya lewat Anang, duitnya ada juga dari Andi karena Andi modalnya banyak juga," ungkap Sugiharto.

Sugiharto mengaku tidak tahu apakah jatah untuk Setnov itu benar-benar diberikan atau tidak.  Anang yang juga dihadirkan sebagai tersangka menyebut Johannes Marliem pernah mengatakan ada dana tidak terduga untuk e-KTP sebesar Rp100 miliar.

"Johannes Marliem pernah bicara dia itu ada dana tidak terduga untuk e-KTP seratus miliar rupiah, tapi pada dasarnya saya dan Johannes Marliem ada utang piutang, tapi dia kalau ketemu saya tidak berani nagih," kata Anang.

Johannes Marliem ditemukan tewas di rumahnya di Los Angeles pada 10 Agustus 2017. Dari pemberitaan media di Amerika Serikat, Johannes tewas akibat bunuh diri.

Berita Lainnya

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123