,
Tangerang Selatan -Majelis Dzikir dan Istighosah Raudhah Al Hikam menjadi agenda utama rutinitas Dewan Pimpinan Daerah Forum Komunikasi Anak Betawi...
Jakarta - Persiapan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90 oleh panitia dari Lembaga Kota Tua Heritage (LKTH) terus dilakukan. Mulai dari audiensi,...
Jakarta - Terbentuknya Whatsapp Group (WAG) Lintas Forkabi berencana akan mengadakan milad yang ke - 1 tahunnya. Hal itu dikemukakan oleh Ida salah...
Jakarta - Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat, Mayjen TNI Hartomo menjadi Inspektur Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di lapangan...
Untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Jakarta, Dedi Sulaiman.S.IP bertekad maju dalam kancah politik pada tahun 2019 mendatang.  Ia...
Jumat, 07 September 2018
Jakarta - Peran pemuda dalam kancah politik harus menjadi prioritas dalam kepedulian terhadap bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang...
12 Januari 2018 | Dibaca: 171 Kali
Majelis Hakim Geram Saksi Berkelit

para saksi usai memberikan kesaksian di pengadilan Tipikor, Kota Pangkalpinang (ist)

(11/01/2018)
Pangkalpinang, Fokusjurnal.com-
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, menggelar sidang lanjutan atas perkara Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) yang diduga fiktif.

Sidang yang di ketuai oleh majelis hakim Sri Endang Ningsih. SH, MH itu menghadirkan tiga orang saksi masing-masing Zubaidah (Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya), Amir Rahman (Fraksi Hati Nurani Rakyat) dan Rano (Fraksi Demokrat), ketiganya adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pangkalpinang .

Seperti biasa dalam persidangan majelis hakim memberikan pertanyaan kepada para saksi seputar perkara SPPD yang diduga fiktif dalam Kunjungan Kerja (Kunker) ke Jakarta tersebut, namun ketiga saksi pada perkara ini dua diantaranya berkelit dalam memberikan pernyataan dan terkesan berbohong.

Kedua saksi itu diantaranya Zubaidah dan Rano, mereka dinilai berbelit ketika majelis hakim memberikan pertanyaan kepada para saksi pada perkara itu. Majelis hakim meminta kepada saksi untuk memberikan kesaksian yang benar dan jelas.

“Sudahlah, saksi jangan berbelit-belit didalam persidangan ini, setiap pertanyaan yang kami berikan dijawab jujur dan transparan didalam persidangan ini. Jika saksi menjawab tidak jujur di dalam persidangan ini, kami katakan percuma karena semuanya sudah tertuang didalam Berita Acara Perkara (BAP). Jadi para saksi harus berkata jujur didalam kesaksian ini,”pinta Sri Endang Ningsih geram.

Dihadapan Jaksa dan Penasehat hukum para saksi. Majelis hakim menyatakan jika didalam kesaksian yang digelar dalam persidangan ini ada kata-kata kebohongan itu sama saja menjadikan diri kalian bernilai rendah. Karena kalian adalah para anggota dewan terhormat.

“ Tidak satu tutup kemungkinan akan ada terdakwah baru nantinya dalam perkara ini,  seperti pada persidangan beberapa waktu lalu,”ujar Sri dalam persidangan, Kamis (11/1/18).

Berbeda dengan kedua saksi lainnya, saksi Amir Rahman terkesan tidak berkelit bahkan terlihat santai dan apa adanya setiap menjawab pertanyaan yang diajukan oleh majelis hakim. Namun demikian, saksi juga telah mengembalikan uang tersebut.

Seperti diketahui, mencuatnya kasus SPPD yang diduga fiktif itu syarat dengan penyimpangan terhadap anggaran Kunker ke Jakarta sebesar Rp. 300 juta yang dilaksanakan pada tanggal 6-8 Februari 2017 dan telah melibatkan sejumlah nama anggota dewan yang terdiri dari komisi I, II, dan III. (Rey)

 

Kantor Pusat :

The City Tower 
​​​​​​Jl.MH. Thamrin No. 81
Level 12 1N, JAKARTA PUSAT

Telp. 021 - 30490123